Beranda > Catatan Syam > Tentang Pemberian Nama

Tentang Pemberian Nama

kata shakespeare apalah arti sebuah nama…
tapi bagi kita nama itu mungkin tidak hanya penting
sebagai tanda pengenal, identitas diri ataupun pembeda orang lain…
nama bisa juga merupakan do’a orang tua untuk “kebaikan”
sang anak di masa depan hidupnya…

seperti malam kemarin (rabu malam 14/09/2011) saya di undang tetangga sebelah
untuk “menyaksikan” acara pemberian nama seorang bayi yang baru dilahirkan…
dalam bahasa kampung saya, acara pemberian nama ini disebut juga dengan “batasmiah”…sebuah prosesi ritual pemberian nama perpaduan antara ajaran agama islam dengan budaya kampung suku banjar…

mulanya persepsi saya bahwa setiap acara batasmiah prosesinya memakan waktu yang lama karena banyaknya ritual-ritual yang dikerjakan… biasanya dalam acara batasmiah selain pelaksanaan shalat berjamaah magrib dan isya di rumah yang menggelar hajatan juga dilakukan acara pembacaan shalawat berzanji—semacam syair puji-pujian kepada nabi muhammad, keluarga beliau hingga para pengikutnya—yang dibacakan oleh banyak orang dan ditambah ceramah agama oleh tuan guru…

tapi, batasmiah yang saya hadiri malam tadi…agak berbeda… ternyata acaranya ringkas saja…setelah shalat magrib berjamaah…langsung dilakukan prosesi pemberian nama kepada sang bayi… kalau biasanya pula pemberian nama ini di pimpin oleh orang alim, ulama atau tuan guru… yang ini prosesinya hanya dipimpin oleh sang kakek saja…

prosesi dimulai dengan pembacaan ayat suci al qur’an oleh seorang qari—seorang yang fasih dalam melantunkan ayat-ayat suci al qur’an— ayat yang dibaca (kalau tidak salah) adalah ayat-ayat yang ada dalam surah ali imran, maklum saya kurang hafal…he..he… bulu kuduk saya sempat tegang karena mendengar lantunan ayat suci al qur’an yang dibacakan cukup merdu.

setelah selesai, kemudian dilakukan prosesi utama yaitu pemberian nama. sang bayi yang akan diberi nama dihadapkan di depan “pemberi nama” dan yang bertugas memberi nama kemudian mengucapkan kata-kata dalam lafal bahasa arab dengan disaksikan oleh mereka yang hadir…

setelah selesai pemberian nama…dilaksanakan prosesi yang menurut saya cukup unik, yaitu—saya mengatakannya sebagai prosesi “mengecap rasa” oleh bayi baru saja diberi nama. ada garam, gula, air santan dan kurma yang dijadikan alat atau simbol pengecap rasa untuk sang bayi. oleh “pemberi nama” disebutkan maksud dengan mengecap rasa asin garam, maka sang bayi nantinya diharapkan ketika besar… ucapannya dapat didengar oleh orang lain, kata-katanya “masin” —bahasa banjar— dalam bahasa indonesia diartikan “berwibawa”…

sedangkan makna dari “gula” adalah manis. dengan mengecap rasa manis dimaksudkan agar sang bayi ketika dewasa manis parasnya, manis—dalam bahasa indonesia bisa diartikan baik—juga budi pekertinya. adapun makna dari “santan” kelapa adalah ketika dewasa nanti sang bayi akan “berisi” ilmu yang bermanfaat dan keberadaannya juga bermanfaat bagi orang lain. kemudian makna dari kurma adalah dengan mengecap “kurma” diharapkan nantinya sang bayi bisa memakan langsung buah kurma dari pohonnya yang ada di mekah dan madinah.

setelah selesai prosesi “mengecap rasa” ini dilanjutkan dengan pembacaan shalawat kepada nabi muhammad yang diikuti dengan “mengarak” sang bayi untuk di elus kepalanya oleh hadirin yang menyaksikan prosesi pemberian nama. setelah selesai dilanjutkan dengan pembacaan do’a lalu kemudian dilanjutkan dengan acara inti “makan-makan”… ini yang paling saya tunggu karena biasanya dalam acara “batasmiah” ini pasti lauknya daging kambing dan lebih spesial dimasak dengan cara “masak kari”…. sungguh enak tenan..he…he…

bersamaan dengan acara batasmiah ini juga dilakukan prosesi “aqiqah” yaitu ajaran agama islam yang mewajibkan melakukan korban kambing atau domba dalam setiap pemberian nama bayi yang baru dilahirkan. makna dari korban kambing ini adalah sebagai tanda syukur atas kelahiran bayi sekaligus juga simbol dengan mengorbankan kambing/domba tersebut yang nantinya kelak di akherat akan menjadi “tunggangan” sekaligus saksi bagi sang bayi yang berkorban.

setelah selesai acara “makan-makan” acara bubar dan pulang kerumah masing-masing… membawa sisa bau daging kambing…he…he…

kalau lain waktu ada hajatan batasmiah…jangan lupa untuk berkabar…he..he… lumayan dapat makan gratis lauk daging kambing…wkwkwk…

  1. aman ganal
    Februari 20, 2012 pukul 10:42 am

    ayat dalam surah Ali Imran nang dibaca biasanya ayat 33,34,35,36,37. Rancaki mangaji lah supaya lancar; dahulu diwadah kami di hulu sungai bisa disuruh bagantian mambacanya. Jadi datang ka urang batasmiah kada makan wara, tapi malancari mangaji🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: