Beranda > Catatan Syam > Tentang Puisi-Puisi

Tentang Puisi-Puisi

SEBUAH PUISI

Puisi  yang pernah digubah untuk

   Joe, seorang sahabat

 

Tak semua mimpi adalah seperti yang kamu

tuliskan diatas kertas binder itu

Kenyataan kadang tidak harus berbanding lurus

seperti yang ada dalam tulisan di buletin Birokra

 

Lalu, untuk apa air mata

Ketika kamu harus menangis hanya karena cinta ?

Apakah itu hanya sebuah sesal ?

Untuk berbagi kekecewaan dengan Manglayang yang masih saja membisu ?

Untuk berbagi perih dengan Tangga Seribu yang angkuh dengan warna merahnya ?

 

Kadang, jangan selalu kamu anggap dunia

hanya seukuran lapangan parade, rumput-rumputnya

habis dipandang sekelebat mata

Harapan bukankah adalah rahasia yang tertunda

untuk diketahui entah kini atau esok

seperti doktrin klasik itu : semua itu ada waktunya

 

Hari ini mungkin kamu hanya bisa menatap indah

pegunungan di seberang dengan mencuri pandang

Tapi esok dengan kesabaran untuk menanti,

juga ketabahan menjalani titian waktu

adalah sebuah kemungkinan bagi kamu

akan dapat duduk santai, ditangga seribu

memandangi siluet senja yang indah

memandangi pesona pegunungan seberang

 

Tak ada kata menjadi tulisan ketika kamu

hanya berdiam diri di atas bed dan menatap

langit-langit kamar sembari terus menyesali

ingatan kejadian kelam yang telah kamu jalani

dikampus ini kemarin hari.

 

 

Jatinangor, 18 Juni 2004

PUISI UNTUK JOE

       Joe, seorang sahabat

 

 

Tak ada mimpi seperti yang kamu

tuliskan di atas kertas binder itu

Kenyataan bukan sekedar teori-teori di papan tulis

yang juga kamu catat di atas kertas yang sama

 

Lalu, untuk apa air mata

Ketika kamu harus menangis hanya karena cinta ?

Di mana ketegaran jiwa seorang anak Adam ?

Yang ketika malam pernah memanggul senjata

long march menyusuri jalan berliku dan

dinginnya Lembah Cikole ?

 

Kadang, jangan selalu kamu anggap dunia

hanya seluas lapangan plaza menza, di saat

telapak tanganmu menyentuh panasnya matahari

Lembah Manglayang

Harapan adalah entah kini atau esok (memang)

semua itu ada waktunya

Bukankah mentari pagi akan senantiasa kembali

bersinar cerah di atas atap-atap wisma

begitu juga, bulan tidak selamanya bercahaya pias

di balik remang merkuri malam

Adakalanya bulan akan bersinar indah di pucuk

pohonan pinus dan cemara

 

Tak ada mimpi ketika kamu cuma berdiam diri

di atas bed dan menatap langit-langit kamar

sembari menyesali berlembar-lembar catatan kelam

yang kamu tulis di kampus ini kemarin hari.

 

 

Jatinangor, April 2003

 

 

Kategori:Catatan Syam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: