Beranda > Catatan Syam > Jatinangor dan Puisi yang Tak Terpublikasikan

Jatinangor dan Puisi yang Tak Terpublikasikan

JATINANGOR, 11 JANUARI 2003

 

(I)

Langit biru dan matahari sendu

Ada noktah tak bergaris, pada galau dan risau yang tak dapat dimengerti, oleh dan entah kenapa ? dalam diary ini, hari menghitung jejak demi jejak dari masa silam. Inikah aku dengan kenyataan-kenyataan yang harus kuhadapi, kujalani dalam hidup ini ?

 

Aku mencoret mimpi. 

Impian apakah juga hanya topengku saja. Kupandangi lazuardi langit tertinggi. Aku ingin bersayap untuk terbang. Akan kugapai bintang-bintang ? (ah, mana mungkin, mana sayapku, ya mana sayapku ?) kembali kamu keharibaan mimpimu, cukup pandangi saja dengan mata sayumu itu ! Lalu…. Bukankah aku harus berani terbang, menuju langit menggapai bintang ? (hei kau pun tampak seperti capung ! sadarkah kamu dengan dirimu ! apa yang dapat kamu banggakan ! terbangmu ah terbangmu ! simpan saja disaku bajumu yang lusuh itu ! menangis saja dulu, jangan    selalu kau bungkus dengan tawa ! ) mungkin karena nasib saja kamu bisa mengepak sayap atau suatu saat nanti kau akan terkapar dipandang ilalang yang gersang.

 

Tak ada dan tak ada gerimis

Aku hanya diam. Mempertanyakan diriku sendiri pada dinding-dinding kesunyian. Dan hanya berbagi dengan kesepian yang selalu setia menemani kegalauan hatiku yang terluka dan terkecewakan oleh cinta yang mengabur. Inilah mungkin jalan menuju sedarku. Untuk bertanya tentang “apa dan siapa aku ini. Aku harus sadar dengan hidupku.

 

Kupandangi malam ada bintang dengan mendung membalut bulan.

Dari hari ini aku lalui, aku ingin berpijkak menjalani hidup untuk lebih bijak. Untuk menyusun reruntuhan mimpi dan impian yang galau dan risau oleh nasib dan luka.

 

(II)

Dari sepi yang disaput kabut, ada mimpi yang tak terenda di hari ini, kuas dan kanvas seperti enggan untuk menoktahkan realitas pada absurditas yang galau. Apakah ini akan terbaca olehmu ? Ah, siapatah aku ?

 

–Jatinangor, di minggu pagi yang dingin

 

 

MALAM

 

Dan dalam puisi ini malam kembali kelam

Aku yang mencari mimpi

Dikaki langit

Ditubir bukit yang nyaris indah

Ada rembulan, ada kerlip gemintang

 

Tapi aku, seperti yang telah seperti kemarin

Kembali berjalan, berselimut

Kesunyian yang sama : sepi yang nyaris sempurna

 

(aku menantang rindu di bukit kutukan)*

 

 

Jatinangor, 25 mei 2004

* sebaris puisi yang pernah ditulis oleh penyair tak dikenal di tahun 1999

PADA MUSIM YANG KINI AKAN BERAKHIR

 

Pada musim yang kini akan berakhir

Aku temukan sekuntum bunga

Dimatamu. Juga gerimis

Pada sebuah senja yang indah

 

Diberanda rumah ini. Aku menatap

Dan terpaku. Dihadapanmu. Aku berpikir

Hingga menjadi ragu. Aku gundah

Sekuntum bunga itu, terlalu indah

andai aku yang memetiknya

 

dalam ruang pikirku yang lain :

jika aku hanya terus menatapnya

dan dalam waktuku yang kini kian

sedikit tersisa. Ada gundahku juga

semua itu akan memudar

sementara aku takut untuk kehilangan

 

dimatamu; tak ada lagi sekuntum bunga

juga gerimis pada sebuah senja yang indah

hingga pada musim-musim yang akan kulalui

aku memaguti kesepianku sendiri. Seorang yang

kehilangan dan hanya meratapi kenangan silam

tanpa mampu lagi mengulang kembali

 

sungguh,

pada musim yang kini akan berakhir

aku takut untuk kehilangan

 

(saat tidurku, pada malam-malam yang selalu

membuncahkan rindu. Ada harapku : kini

dan esok sekuntum bunga itu tumbuh ditaman depan beranda rumah kita)

 

Kamar kost, Cibuesi 29/6/2004

Kepada Sang Alkemis

 

Kemarin. sebuah puisi telah aku tulis :

harapku ada kenyataan berbanding lurus

dengan teori-teori di papan tulis

yang aku catat di saat perkuliahan

 

Seperti novel itu :

Aku bukan Santiago, yang begitu yakin

diseberang gurun sana, yang teramat jauh dari pandangan mata, mencari harta terpendam

menguak legenda pribadi

meneguk jiwa buana, cinta dan

kesetian seorang Fatima !

bahkan aku bimbing untuk percaya

bilapun ternyata ditempat dudukku, disini. Kini !

harta itu, jiwa buana itu dan cinta ada. Ada !

 

Barangkali, aku hanya terbuai dengan

kata yang puitis

hingga dalam sedarku : aku ini bukan siapa

raguku untuk yakin dengan maktub !

bahwa aku akan juga menjalani takdir yang sama

menjadi seperti bocah gembala itu

 

Apakah memang begitu ?

Wahai Sang Alkemis !

 

Tapi jalanku didepan, menikamku

kembali untuk kesekian kali

dan rasa, ragaku luluh lantak lagi

(aku takberdaya)

 

dan kau ; Sang Alkemis

adakah disini, kini ! untukku

membawa obat filsuf

hingga aku sembuh dari luka ini

ketidakwarasan ini !

(Wahai Sang Alkemis ! Gilakah aku kini !)

 

Dapur Redaksi Baru, Sabtu 10 Juli 2004

 

 

Kategori:Catatan Syam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: