Beranda > Tentang Beberapa Hal > DARI SEBUAH PUISI

DARI SEBUAH PUISI

Jika aku menuliskan mimpi diatas kertas binder itu

Aku berharap ada kenyataan berbanding lurus

dengan harapan seperti teori-teori di papan tulis

yang aku catat di saat perkuliahan

Tapi, ternyata hidup tidak sekedar teori-teori,

Ada saja air mata berderai untuk sebuah tangisan

bahkan hanya karena cinta

Aku rapuh dan mendera sesal

Seperti bukan aku yang dulu

tegar dan kuat dengan senjata terpanggul

menyusur dingin lembah Cikole

Hingga, kadang dunia seperti

hanya seluas lapangan plaza menza,

ketika panasnya matahari menyengat telapak tanganku

dan doktrin itu yang selalu memekakkan telinga

menjadikanku bosan untuk percaya 

(walaupun mungkin itu benar)

: Semua ada waktunya

Dan memang mentari pagi akan senantiasa kembali

bersinar cerah di atas atap-atap wisma

Tapi hatiku esok akankah secerah itu !

juga bulan yang malam ini pias

di balik remang merkuri malam

seperti ucapan duka abadi untukku

Hingga dalam bimbangku. Ada ragu

Bahkan bulan di pucuk pohonan pinus dan cemara

akan memberi sinarnya yang indah untukku

Jika ada mimpi dalam diam

di atas bed aku berharap.

Jika sesalku adalah pelampiasanku

catatan yang kutulis silam dikampus ini

adalah kenangan terpahit yang harus kurasakan

tidak hanya saat ini diatas bed tapi mungkin juga

disuatu hari yang kusebut sebagai masa depan

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: