PUISI UNTUK JOE
–Joe, seorang sahabat –
Tak ada mimpi seperti yang kamu
tuliskan di atas kertas binder itu
Kenyataan bukan sekedar teori-teori di papan tulis
yang juga kamu catat di atas kertas yang sama
Lalu, untuk apa air mata
Ketika kamu harus menangis hanya karena cinta ?
Di mana ketegaran jiwa seorang anak Adam ?
Yang ketika malam pernah memanggul senjata
long march menyusuri jalan berliku dan
dinginnya Lembah Cikole ?
Kadang, jangan selalu kamu anggap dunia
hanya seluas lapangan plaza menza, di saat
telapak tanganmu menyentuh panasnya matahari
Lembah Manglayang
Harapan adalah entah kini atau esok (memang)
semua itu ada waktunya
Bukankah mentari pagi akan senantiasa kembali
bersinar cerah di atas atap-atap wisma
begitu juga, bulan tidak selamanya bercahaya pias
di balik remang merkuri malam
Adakalanya bulan akan bersinar indah di pucuk
pohonan pinus dan cemara
Tak ada mimpi ketika kamu cuma berdiam diri
di atas bed dan menatap langit-langit kamar
sembari menyesali berlembar-lembar catatan kelam
yang kamu tulis di kampus ini kemarin hari.
Jatinangor, April 2003
Februari 3, 2009 pukul 7:43 am |
Bait 1
Mimpi terkadang bisa berbicara lain daripada sekadar bunga tidur.
Bait 2
Cinta tak semestinya harus ditangisi. Tetapi dengan cinta kita bisa bangkit dari kesedihan.
Bait 3
Alam memang luas, tidak seluas daun kelor. Kita harus menapakinya seberapa kita mampu menjelajahinya.
Kodrat alam memang berjalan sesuai dengan waktu, tetapi tidak semestinya kita menerima apa adanya. Kita harus mengupayakann sedemikan rupa agar harmoni dengan perjalanan hidup kita.
Bait 4
Tak akan ada asa jika kita berdiam diri tanpa kerja keras.