Tentang Puisi

PUISI UNTUK JOE

       Joe, seorang sahabat

 

 

Tak ada mimpi seperti yang kamu

tuliskan di atas kertas binder itu

Kenyataan bukan sekedar teori-teori di papan tulis

yang juga kamu catat di atas kertas yang sama

 

Lalu, untuk apa air mata

Ketika kamu harus menangis hanya karena cinta ?

Di mana ketegaran jiwa seorang anak Adam ?

Yang ketika malam pernah memanggul senjata

long march menyusuri jalan berliku dan

dinginnya Lembah Cikole ?

 

Kadang, jangan selalu kamu anggap dunia

hanya seluas lapangan plaza menza, di saat

telapak tanganmu menyentuh panasnya matahari

Lembah Manglayang

Harapan adalah entah kini atau esok (memang)

semua itu ada waktunya

Bukankah mentari pagi akan senantiasa kembali

bersinar cerah di atas atap-atap wisma

begitu juga, bulan tidak selamanya bercahaya pias

di balik remang merkuri malam

Adakalanya bulan akan bersinar indah di pucuk

pohonan pinus dan cemara

 

Tak ada mimpi ketika kamu cuma berdiam diri

di atas bed dan menatap langit-langit kamar

sembari menyesali berlembar-lembar catatan kelam

yang kamu tulis di kampus ini kemarin hari.

 

 

Jatinangor, April 2003

Satu Tanggapan ke “Tentang Puisi”

  1. suharmono Berkata:

    Bait 1
    Mimpi terkadang bisa berbicara lain daripada sekadar bunga tidur.

    Bait 2
    Cinta tak semestinya harus ditangisi. Tetapi dengan cinta kita bisa bangkit dari kesedihan.

    Bait 3
    Alam memang luas, tidak seluas daun kelor. Kita harus menapakinya seberapa kita mampu menjelajahinya.
    Kodrat alam memang berjalan sesuai dengan waktu, tetapi tidak semestinya kita menerima apa adanya. Kita harus mengupayakann sedemikan rupa agar harmoni dengan perjalanan hidup kita.

    Bait 4
    Tak akan ada asa jika kita berdiam diri tanpa kerja keras.

Tinggalkan Balasan