Arsip

Arsip untuk Januari, 2011

Be your self

Januari 28, 2011 Tinggalkan Komentar

Kenapa kita harus menjadi diri sendiri ? tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dipikiran ketika membaca kembali sebuah majalah lawas : Percikan Iman, edisi no. 05 thn. V mei 2004.

Jawabannya, yang saya dapatkan di majalah tersebut adalah : dengan menjadi diri sendiri berarti meminimalkan ketergantungan kepada orang lain dan memunculkan potensi diri untuk bisa menjalani hidup, berbuat dan berkarya. Atau seperti wejangan pepatah arab berikut :

”pemuda sejati bukanlah yang membanggakan ayahnya atau nenek moyangnya. Pemuda sejati adalah yang mampu menyatakan : it’s me…inilah aku”

Be your self atau jadilah diri sendiri itu mudah ditulis dan nyaman untuk di ucapkan, namun seringkali sulit untuk diterapkan. Kita hidup tidak sendiri, ada orang tua, saudara, tetangga dan kawan. Mereka semua tentu sangat mempengaruhi kehidupan kita. Menjadi diri sendiri bukan berarti menghilangkan segala pengaruh luar tetapi menjadi seorang yang punya pendirian.

Ada dua kiat, untuk bisa menjadi diri sendiri, yaitu :

Pertama, melihat diri sendiri dengan jujur, menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Lalu, renungkan arah, tujuan dan cita-cita yang hendak di capai.

Kedua, pandang diri sendiri dengan pandangan yang positip dan optimis. Hilangkan rasa minder dalam pikiran dengan menanamkan dalam-dalam kepercayaan diri.

Untuk menjadi diri sendiri tentu akan mendapatkan halangan atau rintangan. Untuk mengatasi halangan atau rintangan itu, berikut beberapa prinsip yang harus dipedomani :

#1 : jujur. kejujuran merupakan modal pokok untuk menjadi diri sendiri.

#2 : berani. apabila rasa takut mendominasi, akan sulit bagi kita untuk bergerak menjadi diri sendiri.

#3 : tahan uji. masalah dalam hidup selalu datang dan pergi. sikap tahan uji akan menempa mental kita, sedikit demi sedikit meningkatkan kadar kualitas diri kita yang sebenarnya.

#4 : kerja keras. tanpa ada kerja keras, cita-cita untuk menjadi diri sendiri hanya akan mengendap di angan-angan dan hidup sukses tanpa ada kerja keras hanyalah sebatas mimpi saat tidur di siang bolong.

#5 : kerja bareng. menjadi diri sendiri bukan berarti bersikap egois  tanpa melihat kiri dan kanan. menjadi diri sendiri harus dipahami sebagai suatu sikap yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

#6 : ikhlas. dalam membangun mental menjadi diri sendiri, sifat ikhlas sangatlah penting. karena tidak semua yang kita lakukan untuk menjadi diri sendiri harus dikalkulasi dengan materi maupun uang.

#7 :  penuh optimisme. untuk berbuat dan berkarya kita perlu energi yang bernama optimisme. ketiadaan optimisme bukan hanya membuat kita gagal untuk menjadi diri sendiri, tapi juga gagal menjalani tanggung jawab sebagai manusia.

#8 : kreatif dan inovatif. tanpa bermodalkan sikap kreatif dan inovatif, kita hanya akan menjadi bayang-bayang orang lain dan sulit untuk menjadi diri sendiri.

#9 :  berjiwa sosial. keberadaan diri kita tidak akan berarti apa-apa bila tidak memberikan manfaat bagi orang lain.

#10 : memiliki keyakinan yang tinggi. sebesar apapun semangat kita, sekuat apapun tekad kita, dan sekeras apapun kemauan dan upaya yang kita lakukan untuk menjadi diri sendiri tanpa adanya keyakinan yang tinggi hanya akan membuahkan kesia-sian.

#11 : hanya bersandar kepada Allah SWT. dalam hidup ini, kadang kita dapat berdiri tegak, namun tak jarang badai menerpa begitu kencang, hingga kita pun oleng dibuatnya. kala itu tidak ada tempat meminta pertolongan, tidak ada tempat yang menjadi sandaran, kecuali hanya kepafa Allah SWT semata.

 

Categories: Catatan Syam Tag:

RENUNGAN DI TENGAH MALAM

Januari 28, 2011 Tinggalkan Komentar

Sejenak, sesaat sebelum kita hanyut ke pulau kapuk menjemput mimpi. Di keheningan malam, melepaskan pikiran dari hiruk pikuk hidup yang tampak memberatkan pundak dengan melakukan perenungan-perenungan. Mudahan dengan perenungan itu akan memberikan pencerahan mental dan spiritual dan menjadikan hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Untuk kali ini, berikut beberapa renungan yang disarikan dari majalah tarbawi edisi 123 th. 7 dzulhijah 1426 h / 5 januari 2006 :

Jika kamu melihat seseorang senang melakukan yang ringan-ringan, ketahuilah bahwa hidupnya tidak memberi manfaat apapun (Yusuf bin Husain Ar Razi)

Di usia kita yang entah berapa, kita mesti bertanya. Sejauh mana kita telah menempuh jalan dan seberapa banyak kita telah menabung bekal.

Berlomba mutu dan beradu cepat adalah keniscayaan hidup orang beriman.

Sepotong hidup hanya sekali datang, sesudah itu secepatnya pergi. Bahkan alangkah cepatnya menghilang. Pagi datang dan segera saja disapu siang. Sore memburu memburu dan tiba-tiba malam. Dalam deru hidup seperti ini, kemana kita menatap ? kemana kita membawa ?

Gerak dan pilihan untuk terus maju adalah prinsip besar yang harus kita pilih. Hidup ini selalu diambang dua tuntutan. Pertama, tuntutan untuk berkompetisi secara waktu. Yang kedua adalah soal dimensi kualitas, mutu, bobot, dan apa yang harus kita lakukan dengan sebaik mungkin.

Perlombaan selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Karenanya, dimensi mutu, memberi penegasan bahwa menjadi cepat saja tidak cukup. Tapi bagaimana kita bisa menjalani hidup sebagai orang yang punya mutu, punya prestasi, karya, dedikasi dan kualitas pribadi dalam beragam pilihan yang kita tekuni.

Hidup benar-benar pertarungan semangat untuk bergegas dan berkehedak untuk bersegera.

Sudah seberapa maksimal kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kita.

Dalam kapasitas apapun, selalu ada jalan untuk menjadi berarti.

Karena itu, kita harus melakukan maksimalisasi dan akselarasi pada semua hal dalam hidup kita, agar terus berjalan, berfungsi dan bermanfaat.

Hidup ini hanya sekali saja. Jangan kita jadikan ia sia-sia. Teruslah melakukan perbaikan, mulai hari ini. Karena setelah hari ini, yang ada hanyalah pertanggung jawaban.

Mimpi berhenti disetengah malam

Januari 28, 2011 Tinggalkan Komentar

“kita ingin berubah karena masa lalu, namun juga sebab harapan,
bahkan yang mungkin bukan harapan”
—sebuah sms dari seorang sahabat—

Mimpi berhenti disetengah malam
Kamar ini, hanya menyisakan dingin
Dan di hati ini, deras air matamu
menyisakan kepedihan

Tapi mau apa lagi
Jalan yang masih panjang, masih banyak tikungan
banyak simpangan, sementara kebersamaan kita
masih kita ragukan sampai dimana
Mungkin, meski hal yang terberat
pilihanmu adalah yang terbaik
kita cukup sampai disini

hanya, aku coba tuk pahami
mengerti semua ini,
memaknai kehidupan dengan bijak
adakalanya kita harus menerima kenyataan
dengan lapang dada,
pertemuan dan perpisahan punya batas tipis
pun dunia esok, hari yang baru
tak berhenti karena semua apa yang terjadi kini

masih ada banyak harapan, masih ada
banyak pilihan, masih ada bayak kesempatan
diantara serpihan, kepingan dan serakan
hati yang terluka

dikamar ini, hanya ada dingin
disetengah malam, mimpi berhenti
aku masih menyimpan semua perasaan ini
setulus seikhlas hati, telah
menyayangi dan mencintaimu

—jelang pagi menghabiskan sisa setengah malam—

Categories: Catatan Syam Tag:, ,

PEMERINTAH DAERAH, PEMEKARAN DAERAH DAN PELAYANAN PUBLIK

Januari 22, 2011 1 komentar

Di era globalisasi ini misi pemerintahan tidak lagi bertumpu pada pengaturan, akan tetapi telah bergeser kepada pelayanan. Dimana pemerintahan tidak lagi hanya mengatur dan menciptakan prosedur-prosedur akan tetapi lebih pada pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Bahkan masalah pelayanan masyarakat yang diberikan oleh aparat birokrasi pemerintah merupakan satu masalah penting bahkan seringkali variabel ini dijadikan alat ukur menilai keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas pokok pemerintah. Aspek pelayanan merupakan bagian integral dalam strategi pengembangan tugas dan fungsi pemerintahan, untuk itu aspek perhatian terhadap kualitas pelayanan publik merupakan parameter dari keberhasilan birokrasi dalam pemuasan publik.

Pelayanan yang berkualitas adalah merupakan harapan yang didambakan masyarakat karena masyarakat menganggap bahwa hal itu adalah merupakan hak yang harus diperolehnya. Khususnya di era reformasi sekarang ini pemerintah memberikan perhatian yang serius dalam upaya peningkatan dan perbaikan mutu pelayanan. Antisipasi terhadap tuntutan pelayanan yang baik membawa suatu konsekuensi logis bagi pemerintah untuk memberikan perubahan-perubahan terhadap pola budaya kerja aparatur pemerintah.

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa salah satu tujuan pemberian otonomi  kepada daerah adalah untuk peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Dengan demikian, pelaksanaan otonomi daerah, yaitu dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan Pusat dan  Daerah, maka kewenangan kebijakan pelayanan juga diserahkan kepada daerah dimana unit-unit birokrasi dituntut untuk lebih mampu mengimplementasi dalam bentuk program pelayanan publik yang berkualitas dan sebaik-baiknya.

Akan tetapi ternyata masih terdapat keluhan atas rendahnya kinerja Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik. Tidak berbeda dengan adanya pemekaran wilayah ternyata tidak menjamin akan makin membaiknya pelayanan publik. Hal ini setidaknya tergambar dalam beberapa  ”benang merah” dari makalah/paper/tulisan ilmiah berikut ini :

1.      Penataan Ulang Birokrasi Dan Kualitas Pelayanan Publik Di Era Otonomi Daerah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Administrasi Kepegawaian Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Oleh Erika Revida, Tahun 2007. Beberapa point penting dalam makalah, yang memberi gambaran masih ”buram-nya” pelayanan publik, adalah :

a.       Sejak otonomi daerah digulirkan peranan dan fungsi birokrasi semakin dipertanyakan, mengingat banyaknya kecaman dan keluhan masyarakat terhadap rendahnya kualitas pelayanan publik diberbagai sektor kehidupan;

b.      Praktik KKN dalam pemerintahan dan dalam pelayanan publik masih terus berlangsung, bahkan dengan skala dan pelaku semakin meluas, keinginan masyarakat untuk menikmati pelayanan yang efisien, responsif, akuntabel masih jauh dari realitas;

2.      Desentralisasi Ekonomi Dan Pelayanan Publik:  Studi Di Kabupaten/Kota Jawa Timur Periode 2000 – 2004, oleh Dr. Wilopo, SE., M.Si dan Budiono, SE. M.Si.

a.       Aparat birokrasi lebih mementingkan pencapaian retribusi di wilayah kedinasannya sebagai ukuran keberhasilan kinerja dibandingkan dengan layanan publik yang kurang jelas pengukuran, sanksi, pinalti serta ganjarannya.

b.      Kondisi umum pelayanan publik masih dihadapkan pada sistem pelayanan dari aparatur yang belum maksimal dalam pelayanan publik yang efektif dan efisien.

 

3. Desentralisasi dan Demokrasi, Oleh Meizar Malanesia (2005)

a.       Selama ini realitas yang mewarnai kondisi pelayanan publik di Indonesia adalah ketidakberpihakan kepada rakyat;

b.      Pelayanan publik berada dalam kondisi yang memprihatinkan, contohnya kondisi sarana dan prasarana transportasi yang masih buruk.

c.       Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya (belum adanya pelayanan yang baik kepada masyarakat)  adalah masih dianutnya budaya “pangreh praja” oleh pemerintah, dimana pemerintah menganggap sebagai penguasa yang harus dilayani, dan rakyat menjadi “abdi” yang harus melayaninya.

4.      Tinjauan Sosio Teknologi Atas Penerapan Standar Pelayanan Publik di Kabupaten Jembrana Bali, Oleh Agus Fanar Sukri Tahun 2007.

a.       Tampaknya apa yang telah dilakukan pemerintah masih belum banyak memberikan kontribusi bagi perbaikan kualitas pelayanan publik di negeri ini. Bahkan aparat birokrasi pelayanan publik masih belum mampu menyelenggarakan pelayanan yang diharapkan oleh masyarakat, kecuali hanya 3% daerah yang telah berhasil memperbaikinya ;

b.      Beberapa kelemahan dalam penyelenggaraan pelayanan publik di Indonesia, antara lain, kurang responsif, kurang informatif, terlalu birokratis  dan kurang mau mendengar keluhan/aspirasi masyarakat;

c.       Dilihat dari sisi sumber daya manusianya, kelemahan utama pelayanan publik pemerintah daerah adalah kurangnya professionalisme, kompetensi, empati dan etika.

 

5.      Stop Pemekaran, Utamakan Kemakmuran Di Daerah, Wahyudi Kumorotomo (2009).

a.       Pemekaran tidak lagi mengedepankan tujuan yang sesungguhnya dari desentralisasi, yaitu untuk mendekatkan pelayanan publik kepada rakyat, menciptakan sistem pemerintahan daerah yang responsif, dan meningkatkan kemakmuran rakyat di daerah secara menyeluruh.

b.      Jika dilakukan dengan landasan berpikir yang benar, pemekaran ditujukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik karena administrasi-pemerintahan akan lebih dekat kepada rakyat di daerah. Namun di dalam praktik di Indonesia yang mengemuka adalah sentimen primordial, syahwat elit lokal yang menginginkan jabatan baru, keuntungan politis maupun keuntungan materi, yang kebetulan berimpit dengan kepentingan para perumus kebijakan di pusat sehingga merekapun kurang tegas dalam mewujudkan moratorium pemekaran.

 

6.      Ringkasan Eksekutif : Studi Evaluasi Dampak Pemekaran Daerah Tahun 2001 – 2007, Bappenas bekerja sama dengan UNDP Tahun 2007.

a.       Mengenai aspek kinerja pelayanan publik diidentifikasi bahwa pelayanan publik di daerah pemekaran belum berjalan optimal, disebabkan oleh beberapa permasalahan, antara lain tidak efektifnya penggunaan dana; tidak tersedianya tenaga layanan publik; dan belum optimalnya pemanfaatan pelayanan publik;

b.      Di sisi pelayanan publik, kinerja Daerah Otonom Baru masih berada di bawah daerah induk. Kinerja pelayanan publik daerah otonom baru dan daerah induk secara umum masih di bawah kinerja pelayanan publik di daerah kontrol maupun rata-rata kabupaten

 

7.      Kerjasama Antar Daerah (KAD) Untuk Peningkatan Penyelennggaraan Pelayanan Publik dan Daya Saing Daerah, Oleh : Dr. Ir. Antonius Tarigan, M.Si.

Berangkat dari fakta sementara, saat ini konsep desentralisasi dan Otonomi Daerah diartikulasikan oleh daerah untuk hanya terfokus pada usaha menata dan mempercepat pembangunan di wilayahnya masing-masing. Penerjemahan seperti ini ternyata belum cukup efisien dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, karena tidak dapat dipungkiri bahwa maju mundurnya satu daerah juga bergantung pada daerah-daerah lain, khususnya daerah yang berdekatan

 

Secara umum, bila dirangkum beberapa hal yang menjadi penyebab dari beberapa kenyataan di atas adalah bersumber pada kelemahan peraturan perundang-undangan, rendahnya sumber daya manusia aparat birokrasi, kultur / budaya birokrasi yang masih bersifat paternalisitik dan hanya berorientasi pada kepentingan golongan yang sesaat..

Dari beberapa makalah itu juga, ditawarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah atau solusi untuk mengatasi kurang baiknya pelayanan publik oleh pemerintah daerah, yaitu antara lain :

1.      Mengadobsi teori yang di gagas oleh David Osborne dan Ted Gabler dalam bukunya Reinventing Goverment (2005). Teori ini dikenal dengan istilah New Public Management (NPM). Teori ini sudah terbukti mampu menjadi solusi atas buruknya  pelayanan publik yang terjadi Amerika Serikat.

2.      Perbaikan mutu pelayanan publik dengan menggunakan ISO / IWA 4:2005 untuk Pemerintah Daerah seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Jembarana di Bali.

3.      Ada tawaran untuk memperbaiki pelayanan publik dengan konsep Balanced Scorecard yang digagas oleh Kaplan & Norton, 2001. dengan balanced Scored maka pimpinan pemerintahan dapat mengetahui apa harapan rakyat dan apa kebutuhan pegawai pemerintah untuk memenuhi harapan rakyat tersebut.

 

Menurut kami, untuk perbaikan pelayanan publik, sebelum mengadobsi beberapa teori yang ada, pertama kali seharusnya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah adalah merubah paradigma pelayanan publik itu sendiri. Artinya, bila selama ini paradigma yang tertanam di benak aparat birokrasi di Daerah adalah terbiasa ”dilayani” digeser” menjadi birokrasi yang ”melayani”. Kemudian perlu juga pergeseran pemaknaan, bahwa menjadi ”pelayan” masyarakat adalah pekerjaan mulia dan ibadah.

Dengan merubah paradigma ini diharapkan pelayanan publik akan menjadi semakin baik lagi. Semoga.

Tentang CINTA & Kisah Nestapa Dibaliknya

Januari 5, 2011 Tinggalkan Komentar

Dari mana datangnya cinta ?

Konon jawabannya adalah : dari mata turun ke hati

Benar atau salah kah jawaban itu ?

Sampai tulisan ini saya buat tidak ada jawaban pasti

Yang bisa memuaskan dahaga keingintahuan saya

 

Bahkan berjuta puisi telah digubah

Berjuta syair lagu telah dicipta

Namun, belum ada yang secara pasti mendefinisikan kata “Cinta”

Berikut dengan berbagai jawabannya atas banyak pertanyaan tentang “Cinta”

Akhirnya, saya beranggapan begitu ajaibnya kata “Cinta” itu

Baik bila dilihat dari sudut padang secara logika, etika maupun estetika

 

Tapi sungguh kali ini saya ingin berhenti berdebat dalam pikiran perihal kata “Cinta”

Buat saya “Cinta” itu sendiri adalah adalah sebuah anugerah dalam hidup,
Yang membuat hidup jadi indah

Yang menjadikan hidup jadi berwarna

Yang menyulap hati tenang dan damai

 

Sebaliknya pula karena “Cinta”

Aku sadar pada asa dan rasa yang tak selamanya manis, tapi bercampur pahit dan kecut…
aku dibuat tertawa, tersenyum, sekaligus juga galau, semua karenanya…
Karena itu juga aku meratap, sering gundah, dan bersedih karenanya…

Dia dan Cinta, dua entititas yang berpadu

Menciptakan dunia yang penuh keajaiban

Menumbuhkembangkan berlaksa kegembiraan

Namun, karena selama ini nyaris terburamkan oleh segala macam rutinitas-rutinitas dunia,

Deru debu sengetnya tuntutan kehisupan yang kujalani sepanjang hari-hariku…

Keajaiban itu seperti luluh dan kegembiraan merapuh

Duh, sekarang aku seperti berubah, sering jadi sedikit lebih cengeng daripada biasanya,

Mungkinkah ini karena akal bodohku yang tak mampu menyelaraskan

Kepintaran berpikir dengan kepekaan hati

Atau ini tidak lebih dari sekedar sensitivitas perasaan dan emosiku saja ?

 

Aku juga jadi tampak bermuram durja, jadi lebih ‘sendu’ daripada biasanya

Merasakan putaran jarum jam berdetak lambat

Dan suasana jadi berubah redup

Hingga api semangat yang ada di dadaku begitu lemah untuk berkobar

Entah, aku yang hanyut, larut dari kenyataan…. Yah, apakah aku harus mengatakan dan sedikit membela diri : aku juga manusia yang punya cinta dalam hati…

dan pada titik inilah kembali aku dibenturkan pada pertanyaan dari sebuah jawaban :

karena sebab : dari emosi jadi sakit hati

dan ”Cinta” pun mudah pergi

benar atau salah kah itu ?

sungguh, maaf, aku manusia paling bodoh yang masih tak punya jawaban pasti

sampai dengan detik ini…

tegal : 4/1/11

Categories: Catatan Syam
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.