Jika aku menuliskan mimpi diatas kertas binder itu
Aku berharap ada kenyataan berbanding lurus
dengan harapan seperti teori-teori di papan tulis
yang aku catat di saat perkuliahan
Tapi, ternyata hidup tidak sekedar teori-teori,
Ada saja air mata berderai untuk sebuah tangisan
bahkan hanya karena cinta
Aku rapuh dan mendera sesal
Seperti bukan aku yang dulu
tegar dan kuat dengan senjata terpanggul
menyusur dingin lembah Cikole
Hingga, kadang dunia seperti
hanya seluas lapangan plaza menza,
ketika panasnya matahari menyengat telapak tanganku
dan doktrin itu yang selalu memekakkan telinga
menjadikanku bosan untuk percaya
(walaupun mungkin itu benar)
: Semua ada waktunya
Dan memang mentari pagi akan senantiasa kembali
bersinar cerah di atas atap-atap wisma
Tapi hatiku esok akankah secerah itu !
juga bulan yang malam ini pias
di balik remang merkuri malam
seperti ucapan duka abadi untukku
Hingga dalam bimbangku. Ada ragu
Bahkan bulan di pucuk pohonan pinus dan cemara
akan memberi sinarnya yang indah untukku
Jika ada mimpi dalam diam
di atas bed aku berharap.
Jika sesalku adalah pelampiasanku
catatan yang kutulis silam dikampus ini
adalah kenangan terpahit yang harus kurasakan
tidak hanya saat ini diatas bed tapi mungkin juga
disuatu hari yang kusebut sebagai masa depan
Ditulis oleh syamsuri